Rimba Bitti Pandala

hutan terapi

Awal Rimba Bitti Pandala

Posisi kami sebagai dosen Pengembangan Wilayah Pesisir pada Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin disamping kecintaan akan lingkungan alam dan laut pada 20 tahun lalu membuat kami menjelajahi banyak wilayah pesisir Sulawesi Selatan. Antara lain wilayah pesisir Kabupaten Takalar kami survey untuk menjadi lahan obyek penelitian dan pengembangan bagi mahasiswa kami. Sampailah kami ke dusun Pandala yang kami lihat waktu itu sangat gersang.

Sementara kami memang sudah mengembangkan tanaman pohon Bitti (Vitex Copassus) yang merupakan bahan pembuat kapal kayu pinisi yang mulai jarang populasinya. Kami sudah berangan-angan untuk suatu waktu kembali ke Pandala untuk menanam dan mengadakan penghijauan dengan pohon Bitti.

Angan-angan itu menjadi kenyataan pada tahun 2007 pada waktu kami menjadi President Rotary Club of Makassar (RCM) dengan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Takalar mengadakan program reforestation. Kebetulan lokasi yang kami diarahkan adalah Dusun Pandala yang memang menjadi angan-angan kami.

hutan terapi

Maka mulailah kami beraktifitas dilokasi itu besama dengan teman-teman Rotarian (anggota Rotary) memagar, menanam dan melibatkan masyarakat sambil terus menerus mensosialisasikan pentingnya penghijauan.

Pada awal inisiatif penghijauan hutan Bitti di Pandala, kami juga menerima bantuan dan dukungan dari Tim Taylor, seorang penulis asal Inggris dan beliau menulis kesannya terhadap Rimba Bitti Pandala pada bukunya yang berjudul "Grains Of Time".

Kolaborasi ini memperkuat upaya reforestasi, membantu dalam pemilihan metode yang efektif, dan memberikan wawasan berharga terkait pengelolaan lingkungan. Dengan kerja sama antara Tim Taylor, Rotary Club of Makassar, Pemerintah Kabupaten Takalar, dan masyarakat setempat, program reforestasi tersebut berhasil menciptakan perubahan positif dalam penghijauan dan keberlanjutan lingkungan di wilayah Pandala.

hutan terapi

Pertumbuhan Bitti dilokasi itu sangat sulit karena tanahnya yang liat dan kurus, tidak menyimpan air dan retak lebar dimusim kemarau. Namun karena usaha yang tidak terputus maka ada jugalah yang tumbuh. Didaerah itu sekarang sudah lumayan banyak pohon Bitti yang tumbuh terutama dilahan masyarakat termasuk dipekarangan rumah. Setelah banyak pohon yang sudah berbuah (ditempat lain) maka kami tidak kesulitan bibit Bitti lagi. Kami dapat menyediakan bibit sampai puluhan ribu pucuk sekarang ini setiap tahunnya.

hutan terapi

Satu kelebihan pohon Bitti adalah daunnya akan gugur dimusim kemarau sampai habis, sehingga menutupi lahan dibawahnya sehingga kelak akan mencegah penguapan air tanah dan menjadi pupuk kompos setelah hancur. Ketika musim hujan datang maka daunnya akan lebat kembali.

Membagi bibit kepada petani kelak ternyata lebih efektif karena petani akan menanam dilahannya dan memeliharanya. Dengan metode ini ternyata bibit yang dibagikan lebih meyakinkan pertumbuhannya.

Dengan kenyataan ini maka selanjutnya bila ada tamu yang datang untuk menanam pohon Bitti kami arahkan untuk menanam dilahan petani. Pohonnya akan menjadi milik petani dan dengan demikian mereka akan memeliharanya.

Visi kami kedepan adalah Pandala menjadi wilayah pengembangan agro forestry, termasuk Forest Farming, Agro Forestry (Wana Tani), Sivie Pasture (kebun pohon Bitti sekalian sebagai lahan penggembalaan ternak) dan Agro Forestry Tourism (Wana Tani Wisata). Disertai harapan Pandala dapat menjadi percontohan dan tempat belajar mengenai Wana Tani dengan berbagai aspeknya.